Kekeringan Melanda Sawah Tadah Hujan di Subang, Petani Terpaksa Panen Dini Hindari Gagal Panen

banner 468x60

SUBANG, Kutipansatu.com– Dampak musim kemarau mulai dirasakan para petani di Kampung Ciistal, Desa Cimayasari, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang. Kesulitan memperoleh pasokan air membuat sejumlah petani memilih memanen padi lebih awal untuk mengurangi potensi kerugian akibat kekeringan.

Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar lahan pertanian di wilayah itu merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki jaringan irigasi. Akibatnya, kebutuhan air untuk tanaman hanya bergantung pada curah hujan.

Salah seorang petani, Suhada, mengatakan keputusan melakukan panen dini terpaksa diambil setelah tanaman padinya mengalami kekurangan air dalam waktu cukup lama.

“Niatnya panen ini karena kurang air. Terpaksa dipanen muda,” ujar Suhada saat ditemui di sawahnya, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, tidak adanya saluran irigasi menjadi kendala utama bagi petani di wilayah tersebut.

“Sawah tadah hujan ini mah enggak ada saluran air. Jadi cuma mengandalkan air hujan. Kalau ada hujan bagus, kalau enggak ada hujan ya kekeringan,” katanya.

Suhada menjelaskan, pada awal musim tanam hujan masih turun sehingga petani memutuskan menanam padi. Namun, memasuki musim kemarau, pasokan air semakin berkurang hingga tanaman tidak berkembang secara optimal.

Meski bulir padi telah mulai terbentuk, hasilnya dinilai tidak maksimal akibat kekurangan air. Untuk menghindari gagal panen atau puso, ia memilih memanen tanaman lebih awal.

“Ada sih biji padinya, cuma kurang. Daripada gagal panen sama sekali, sekarang dipanen muda terpaksa, karena enggak ada air dan enggak ada saluran di sini,” tuturnya.

Ia mengaku hasil panen tahun ini diperkirakan menurun jauh dibandingkan saat kondisi air mencukupi.

“Kalau ada air bisa dapat 2 ton atau 3 ton. Untuk saat ini jauh hasilnya, mengalami rugi,” ungkapnya.

Panen dini yang dilakukan petani diperkirakan berdampak pada penurunan produksi serta pendapatan. Para petani berharap ada solusi jangka panjang, terutama penyediaan jaringan irigasi agar lahan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

Sementara itu, berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Subang, sedikitnya 45 desa di 15 kecamatan terdampak musim kemarau. Luas lahan persawahan yang mengalami kekeringan tercatat mencapai 1.348 hektare.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *